Skip to main content

Harapan di Bulan Agustus 2017



Bulan Agustus tahun ini bisa dibilang lebih spesial dari beberapa bulan Agustus yang terjadi beberapa tahun belakangan. Mengapa demikian? Karena ada sesuatu yang sangat saya, lebih tepatnya kami sekeluarga harapkan agar bisa terwujud di bulan ini.

Hal apakah gerangan? Hal tersebut adalah selesainya kuliah adik bungsu kami. Ya, sejak beberapa bulan lalu adik saya memang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya agar secepatnya meraih gelar sarjana.

Setelah beberapa bulan melakukan penelitian, menyusun dan melakukan bimbingan skripsi, akhirnya tanggal 8 Agustus nanti adik saya akan melakukan ujian hasil. Dan bila tak ada aral melintang, mudah-mudahan ia bisa diwisuda pada akhir bulan nanti.

Selain si adik bungsu, orang yang paling menantikan momen berharga ini adalah saya, mama dan tiga adik saya yang lain. Kami semua sangat menantikan saat paling bahagia itu. Rasanya kami tak sabar ingin segera mendampinginya di acara wisuda nanti.

Saking antusiasnya ingin menghadiri wisuda si adik bungsu, saya dan mama bahkan sudah menyiapkan busana yang hendak dipakai nanti sejak dua bulan lalu. Belum lagi perlengkapan lain seperti tas dan sepatu, saya bahkan mengalokasikan dana khusus untuk membelinya. Tujuannya hanya satu, agar saya bisa tampil maksimal saat menghadiri wisuda di akhir bulan nanti.

Setiap hari, doa selalu kami panjatkan agar apa yang kami harapkan bisa menjadi kenyataan. Deretan doa yang dipanjatkan seusai shalat bertambah satu yakni agar gelar S. Pd itu secepatnya tersemat di belakang nama adik bungsu saya.

mama dan si adik bungsu

Sebagai anak sulung, ada rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata ketika menyadari sebentar lagi adik bungsu saya akan menyelesaikan pendidikannya. Saat membayangkan ia memakai toga, ada rasa bahagia sekaligus haru yang diam-diam menyusup dalam dada.

Seketika saya teringat pada almarhum Papa di hari-hari terakhirnya. Papa terlihat sangat sedih karena akan meninggalkan si adik bungsu sebelum sempat memasuki bangku kuliah.

Ahhh Papa, seandainya saat ini engkau masih bersama kami, saya yakin papa akan merasa sangat bangga mendampingi anak bungsu Papa di hari wisudanya nanti.

Ya Allah, mudahkanlah perjalanan adik bungsu saya dalam meraih gelar sarjananya. Mudahkanlah segala urusannya, jauhkanlah ia dari kesulitan-kesulitan yang bisa menghalangi langkahnya meraih cita-cita, amiiin yaa robbal alamin.

Oh iya, selain selesainya pendidikan si adik bungsu, masih ada harapan lain yang juga sangat ingin saya wujudkan di bulan ini. Adalah kopdar dengan sahabat-sahabat blogger yang berdomisili di kota Kendari.

Rasanya hati ini sudah tak sabar menantikan pertemuan itu. Saya sudah membayangkan betapa serunya pertemuan kami. Pasti akan banyak hal yang bisa diceritakan. Saya yakin pertemuan kami pasti lebih seru dari percakapan kami di grup WhatsApp :D

Semoga kedua harapan tersebut bisa tercapai di bulan Agustus 2017 ini. Amin ya Allah

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Bau-Bau, 03 Agustus 2017

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kisah Saya, Dahlia, Anyang-anyangan & Prive Uri-cran

Beberapa waktu lalu, pada pukul sebelas malam, saat saya hendak bersiap-siap merebahkan diri di pembaringan tiba-tiba ponsel saya berdering. Di layar ponsel muncul nama sahabat (sebut saja Dahlia) yang tinggal di luar kota. Segera saya angkat teleponnya. Dari suaranya yang tertahan, saya tahu ia sedang menangis dan menahan sakit.
Saya bertanya, apa yang terjadi padanya. Mengapa ia menelepon selarut ini? Suaranya bergetar saat menjawab "pipis saya berdarah, Ra". Lantas ia mulai bercerita bahwa sudah setengah jam lamanya bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia takut karena setiap kali buang air kecil selalu disertai dengan rasa sakit dan perih, urine yang keluar juga hanya sedikit tidak selancar biasanya. Puncak ketakutannya hingga memutuskan menelepon saya selarut itu adalah saat ia menyadari urinenya bercampur darah.

Merawat Rambut Rusak Dengan Emeron Complete Hair Care

Alkisah, lima belas tahun silam hiduplah seorang gadis belia yang duduk di bangku kelas 3 sebuah SMA Negeri di salah satu kecamatan di Kabupaten Buton. Tak seperti teman-temannya yang ceria, ia justru terlihat murung dan sedih. Apakah gerangan penyebab awan hitam di wajah gadis belia tersebut? Bukan, bukan karena nilainya di sekolah bermasalah, bukan pula karena patah hati lantaran ditinggal orang tercinta, tak lain karena ia sedang stres memikirkan rambutnya yang sudah berbulan-bulan rontok.
Di rumahnya, tak terhitung banyaknya helai rambut yang berceceran di lantai. Di bantal saat bangun tidur, di bawah ranjangnya, di sisir, di kamar mandi, di ruang tv, di teras. Kata kasarnya, di hampir semua sudut rumah pasti ada ceceran rambut rontok si gadis belia. Bahkan saking parahnya, di bawah kursinya di sekolah kerap terlihat beberapa helai rambut miliknya. Ia merasa ceceran rambut rontok itu bagai bayangan yang selalu mengikuti kemana ia pergi.

Tokek Oh Tokek

Saat mata nyaris tak bisa diajak kompromi, maka memejamkannya adalah pilihan terbaik. Namun baru saja kepala ini menyentuh bantal, sayup-sayup terdengar suara yang cukup akrab yang sering saya dengar di rumah mertua sehingga membuat mata ini kembali terjaga. Yap, suara yang saya dengar itu adalah suara TOKEK.

Saya tahu, suara tokek itu tidak berasal dari rumah ini karena bunyinya terdengar dari arah yang jauh. Sepertinya itu suara tokek dari rumah tetangga atau tokek liar yang hidup di pohon di luar sana. Tapi sesayup apapun bunyinya, suara tokek tetap saja terdengar mengganggu di telinga saya, huhuhu.


Ngomong-ngomong tentang tokek, saya jadi pengen cerita tentang tokek yang ada di rumah mertua nih. Jadi, ada banyak banget tokek di rumah mertua. Saya bilang banyak karena jumlahnya memang tidak biasa bila dibandingkan dengan jumlah tokek di rumah orang lain.

Di rumah orang lain, jumlah tokeknya mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja tapi tokek di rumah  mertua jumlahnya lebih banya…