Skip to main content

Maafkan Mama, Nak!


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari tapi entah mengapa mata ini belum mau terpejam. Hati dan pikiran saya letih, kantuk sudah menyerang sejak beberapa jam lalu, tapi pikiran ini masih saja bekerja dan tak mau diajak beristirahat.

Sebenarnya, saya sedang sedih, atau lebih tepatnya kecewa terhadap diri sendiri. Saya merasa sangat bersalah pada anak saya. Saya merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk anak saya. Hiks, tanpa bisa ditahan, saya bersikap kasar padanya :' 

Saya sangat membenci sikap yang tadi saya lakukan. Entah sudah berapa kata maaf yang saya bisikkan di telinga anak saya agar ia mau memaafkan tingkah kejam mamanya. Nak, maafkan mama!

Saat menyuapinya makan malam, sudah saya katakan padanya bahwa ia harus tidur pada pukul sembilan malam agar esok pagi tidak ngantuk saat dibangunin mandi dan berangkat ke sekolah. Anak saya setuju dan mengiyakan.

Seperti yang kami sepakati, pukul sembilan kurang sepuluh menit kami sudah berada di atas ranjang dan bersiap-siap hendak tidur. Seperti biasanya, saat saya menemaninya tidur ia akan meminta saya untuk menyanyikan beberapa lagu sembari menepuk-nepuk beberapa bagian tubuhnya atau mengusap-usap bagian tubuhnya yang ia rasa gatal.

Tapi, saat melakukan itu pikiran saya terbagi. Mulut saya berdendang tetapi pikiran saya melayang pada setumpukan setrikaan yang juga menunggu untuk diselesaikan. Saya memang berencana untuk menyetrika bila anak saya sudah tidur nanti. Dan saya merasa di sinilah letak kesalahan saya. Harusnya, saat menidurkan anak saya, saya fokus saja dan tidak usah memikirkan tumpukan setrikaan itu.

Mungkin anak saya merasakan ketidak-fokus-an mamanya, akibatnya hingga satu jam berlalu, ia belum juga memejamkan mata. Yang ia lakukan hanyalah membolak-balikkan badannya dan semakin banyak bagian tubuhnya yang terasa gatal dan meminta saya untuk mengusapnya.

Kesabaran saya mulai diuji. Beberapa menit berlalu dan tangan saya berhenti mengusap bagian tubuhnya. Saya bertanya padanya di mana ia letakkan handphone saya? Dan apa yang terjadi? Saya pergi mengambil handphone itu. Saya berhenti mengusapnya dan malah memainkan handphone. Huwaaaa, saya ibu yang kejam :'( :'( :'(

Ketika ia merasa saya tak lagi mengusapnya, anak saya meminta saya mengusapnya lagi. Tapi apa yang saya katakan padanya? "Mama malas melakukannya karena sejak tadi Wahyu gak mau tidur-tidur  juga".

Jawaban yang sangat kejam kan??? Hiks, Tidak sepantasnya kalimat itu keluar dari mulut seorang ibu. Ibu macam apa saya? Baru satu jam menidurkan anak sudah tidak sanggup, padahal pegang handphone hingga berjam-jam lamanya tak pernah ada kata bosan dan letih. Sungguh saya merasa hina dan tak pantas disebut sebagai ibu.

Dan yang membuat hati saya semakin teriris dan terus diserang penyesalan bertubi-tubi adalah setelah mendengar kalimat yang saya ucapkan, anak saya langsung tertidur. Hiks, saya sungguh sangat menyesal mengapa harus berucap seperti itu. Seandainya saya bisa memutar waktu, saya pasti tak akan melakukannya. Sampai saat saya menulis ini, air mata tak juga berhenti berderai menunjukkan penyesalan yang teramat dalam.

Tapi semua sudah terjadi. Anak saya sudah terlanjur mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut saya, yang ia panggil sebagai mama. Rasanya ucapan-ucapan maaf yang saya bisikkan di telinganya tak akan pernah bisa menghapus kesalahan yang sudah saya lakukan padanya. Saya ikhlas (walau sedih banget) bila ada yang men-judge saya sebagai ibu yang kejam.

Maafkan mama, Nak! Sungguh tak ada niat di hati mama untuk menyakitimu dengan kata-kata kejam itu. Maafkan mama, Nak! Maafkan mama, maafkan mama.

Mama sungguh sangat menyesal dan berjanji tak akan melakukan kesalahan serupa. I love you so much my baby boy :* :* 

Lakudo, 01 Agustus 2017

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Saya, Dahlia, Anyang-anyangan & Prive Uri-cran

Beberapa waktu lalu, pada pukul sebelas malam, saat saya hendak bersiap-siap merebahkan diri di pembaringan tiba-tiba ponsel saya berdering. Di layar ponsel muncul nama sahabat (sebut saja Dahlia) yang tinggal di luar kota. Segera saya angkat teleponnya. Dari suaranya yang tertahan, saya tahu ia sedang menangis dan menahan sakit.
Saya bertanya, apa yang terjadi padanya. Mengapa ia menelepon selarut ini? Suaranya bergetar saat menjawab "pipis saya berdarah, Ra". Lantas ia mulai bercerita bahwa sudah setengah jam lamanya bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia takut karena setiap kali buang air kecil selalu disertai dengan rasa sakit dan perih, urine yang keluar juga hanya sedikit tidak selancar biasanya. Puncak ketakutannya hingga memutuskan menelepon saya selarut itu adalah saat ia menyadari urinenya bercampur darah.

Merawat Rambut Rusak Dengan Emeron Complete Hair Care

Alkisah, lima belas tahun silam hiduplah seorang gadis belia yang duduk di bangku kelas 3 sebuah SMA Negeri di salah satu kecamatan di Kabupaten Buton. Tak seperti teman-temannya yang ceria, ia justru terlihat murung dan sedih. Apakah gerangan penyebab awan hitam di wajah gadis belia tersebut? Bukan, bukan karena nilainya di sekolah bermasalah, bukan pula karena patah hati lantaran ditinggal orang tercinta, tak lain karena ia sedang stres memikirkan rambutnya yang sudah berbulan-bulan rontok.
Di rumahnya, tak terhitung banyaknya helai rambut yang berceceran di lantai. Di bantal saat bangun tidur, di bawah ranjangnya, di sisir, di kamar mandi, di ruang tv, di teras. Kata kasarnya, di hampir semua sudut rumah pasti ada ceceran rambut rontok si gadis belia. Bahkan saking parahnya, di bawah kursinya di sekolah kerap terlihat beberapa helai rambut miliknya. Ia merasa ceceran rambut rontok itu bagai bayangan yang selalu mengikuti kemana ia pergi.

Tokek Oh Tokek

Saat mata nyaris tak bisa diajak kompromi, maka memejamkannya adalah pilihan terbaik. Namun baru saja kepala ini menyentuh bantal, sayup-sayup terdengar suara yang cukup akrab yang sering saya dengar di rumah mertua sehingga membuat mata ini kembali terjaga. Yap, suara yang saya dengar itu adalah suara TOKEK.

Saya tahu, suara tokek itu tidak berasal dari rumah ini karena bunyinya terdengar dari arah yang jauh. Sepertinya itu suara tokek dari rumah tetangga atau tokek liar yang hidup di pohon di luar sana. Tapi sesayup apapun bunyinya, suara tokek tetap saja terdengar mengganggu di telinga saya, huhuhu.


Ngomong-ngomong tentang tokek, saya jadi pengen cerita tentang tokek yang ada di rumah mertua nih. Jadi, ada banyak banget tokek di rumah mertua. Saya bilang banyak karena jumlahnya memang tidak biasa bila dibandingkan dengan jumlah tokek di rumah orang lain.

Di rumah orang lain, jumlah tokeknya mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja tapi tokek di rumah  mertua jumlahnya lebih banya…