Tentang Kegagalan

By Irawati Hamid - October 02, 2017

pic source: pixabay.com

Beberapa waktu lalu saya mengikuti seleksi penerimaan CPNS untuk yang ketiga kalinya namun lagi-lagi saya gagal memenuhi standar kelulusan yang ditetapkan, dan dapat ditebak, saya gagal melangkah ke tahap selanjutnya.

Bagi saya, kegagalan yang kemarin saya alami adalah hal yang lumrah terjadi pada setiap kompetisi yang tak perlu ditangisi dan disesali karena saya sadar, selain persiapan saya yang memang tidak cukup matang ketika mengikuti ujian juga mungkin karena saat ini belum saatnya saya diterima menjadi PNS.

Namun rupanya tidak demikian dengan mama, beliau terlihat begitu kecewa dengan kegagalan saya. Reaksi mama atas kegagalan saya mau tak mau membuat saya ikut sedih. Kesedihan saya dipicu oleh rasa bersalah karena belum bisa mewujudkan keinginan mama dan almarhum papa.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya juga pengen banget bisa jadi PNS sih, bukan semata untuk mewujudkan keinginan orang tua tapi lebih dikarenakan menurut saya jam kerja PNS lebih santai dan longgar dibanding karyawan swasta, profesi saya saat ini.

Tapi walau keinginan untuk menjadi PNS sangat besar, saya menyadari sesuatu bahwa saya tak seperti kebanyakan orang yang dengan mudahnya dapat mewujudkan mimpi-mimpinya hanya dengan satu atau dua kali mencoba.

Saya bukanlah orang yang seperti itu. Sejak dulu, saya tidak pernah bisa mewujudkan apapun keinginan saya hanya dengan satu kali mencoba. Iya, semua hal yang saya inginkan, baru akan saya dapatkan setelah beberapa kali berusaha mendapatkannya.

Saya ingat, betapa susahnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya setelah lulus kuliah. Entah ada berapa puluh surat lamaran kerja yang saya kirimkan ke berbagai perusahaan. Ada beberapa yang lolos namun kerjanya sangat berat dan tak sesuai dengan disiplin ilmu saya yang pada akhirnya berakhir dengan satu kata; resign.

Saya baru benar-benar mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman dan bersahabat seperti yang selalu ada di mimpi saya pada tahun 2010, tiga tahun setelah lulus kuliah. Lumayan lama kan? 

Tak hanya masalah pekerjaan, masalah asmara pun sama. Saya baru menemukan orang yang tepat setelah beberapa kali mengalami kegagalan :P

Oleh karena itu, dengan banyaknya kegagalan yang saya alami di masa lalu, saya mulai terbiasa dengan semua itu. Saat mengalami kegagalan, saya tak akan terlalu merasa sedih lagi. Merasa sedih yang sewajarnya saja tapi tak akan berlarut-larut.

Saya yakin, semua yang saya inginkan, bila saatnya sudah tiba saya pasti bisa mendapatkannya. Bila saat ini saya belum berhasil, saya masih bisa mencobanya di lain waktu. Yang harus tetap saya jaga adalah semangat dan berbaik sangka pada Allah si penentu akhir atas segala usaha yang saya lakukan.

pic source: pixabay.com

Di akhir tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa sebanyak apapun kegagalan yang saya alami di masa lalu tak pernah ada niat dalam hati ini untuk menghapusnya dari ingatan saya. Ia akan menjadi hal berharga yang akan selalu saya kenang sebagai bagian dari sejarah kehidupan saya.


Bau-Bau, 02 Oktober 2017

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Kegagalan itu hanyalah awal dari kesuksesan kita yang jaraknya hanya tinggal sejengkal saja..yang terpenting seberapa banyak kita bangkit meski telah gagal berkali-kali..semangat ya mbak...

    ReplyDelete
  2. Kegagalan akan mengajarkan kita untuk terus berusaha menggapai impian

    ReplyDelete
  3. Kita bisa banyak belajar dari kegagalan ya, mba Ira.

    Tetep semangat

    ReplyDelete
  4. Saya bukanlah orang yang seperti itu. Sejak dulu, saya tidak pernah bisa mewujudkan apapun keinginan saya hanya dengan satu kali mencoba. Iya, semua hal yang saya inginkan, baru akan saya dapatkan setelah beberapa kali berusaha mendapatkannya."
    .
    Nikmat dari sebuah kesuksesan dari jalan ini mbak
    Smoga tahun depan, atau depannya lagi bisa terwujud cita-citanya untuk mewujudkan impian Kedua orangtua yah Mbak Ira ^_^

    ReplyDelete