Skip to main content

Ketika Anakku Terserang Demam

pic source: pixabay.com

Bertahun silam, saat masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, saya sering banget terserang sakit kepala. Entah mengapa saya begitu mudah terserang penyakit yang sangat mengganggu ini.

Ketika pulang sekolah tidak mengenakan topi atau payung, sakit kepala pasti akan datang menyerang. Berjalan di bawah gerimis atau hujan, sakit kepala datang lagi. Menghirup debu sedikit saja pasti bersin-bersin yang akhirnya ditutup dengan flu dan sakit kelapa. Ya, semudah itu saya terkena sakit kepala :(

Karena alasan itulah orang tua tidak terlalu membebaskan saya untuk melakukan kegiatan yang saya sukai terutama bila kegiatan tersebut dilakukan di alam terbuka dan menguras tenaga. Mama terlalu khawatir saya akan sakit bila melakukan hal tersebut.

Maka saat tamat sekolah menengah atas dan ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, mama agak susah melepas kepergian saya. Mama ingin saya kuliah di tempat yang dekat-dekat saja agar beliau bisa sering menengok anaknya yang gampang sakit ini. Mama khawatir sakit kepala akan sering menyerang saya saat kuliah.

Mama berpikir anak kuliahan beban pikirannya pasti lebih berat dibanding anak SMA, belum lagi tinggalnya sudah jauh dari orang tua pastilah saya rentan diserang stres.

Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Walau saya kuliah di tempat yang sangat jauh dari tempat tinggal kami, siapa yang menyangka setelah kuliah saya justru menjadi orang yang paling jarang terserang sakit di antara banyak penghuni kost-an kami? Bila sebelumnya si sakit kepala rajin banget datangnya, maka saat kuliah ia seolah enggan untuk dekat-dekat dengan saya.

Syukurlah kekhawatiran yang menghantui saya dan mama di awal-awal masa kuliah tidak  terjadi. Hingga lulus kuliah, sakit kepala hanya beberapa kali menyerang.

Beberapa tahun kemudian, saya menikah dan punya anak. Bila dulu mamanya yang sering terserang sakit kepala, setelah menjadi ibu anak saya sering terserang demam :(

Saya ingat, saat berusia tujuh bulan anak saya pernah terserang demam yang cukup parah. Saya dan suami sangat khawatir karena panas badannya sangat tinggi. Alhamdulillah kekhawatiran kami tidak berlangsung lama karena panas badannnya perlahan-lahan menurun setelah diberi ramuan tradisional. Sejak saat itu, setiap kali anak saya demam saya selalu memberinya ramuan tradisional dan hasilnya selalu manjur.

Hingga saat itu datang, saat dimana obat tradisional tak lagi manjur mengatasi demam anak saya. Anak saya berusia satu tahun ketika ia kembali terserang demam. Awalnya saya dan suami santai menghadapinya karena berpikir panas badannya pasti akan kembali normal setelah dikasih ramuan tradisional seperti yang sudah-sudah tapi ternyata kami salah.

Panas badannya masih saja tak mau turun walau sudah saya beri beberapa ramuan tradisional yang disarankan oleh mama juga mertua dan tetangga di sekitar rumah. Saya dan suami panik. Seketika itu kami sepakat untuk memberinya obat saja. Setelah mencari tahu beragam jenis obat penurun demam untuk anak, pilihan kami jatuh pada Tempra Syrup.



Tak lama setelah  saya memberinya Tempra Syrup, panas badan anak saya perlahan-lahan menurun hingga akhirnya normal kembali. Saya dan suami sangat bahagia dengan hasilnya.

Ada tiga alasan yang mendasari kami memilih produk ini, diantaranya adalah ia aman di lambung anak, memiliki dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis) dan cara pakainya sangat praktis tidak perlu dikocok, larut 100%.

Sejak saat itu, setiap kali anak saya terserang demam, Tempra Syrup Paracetamol inilah yang saya andalkan untuk mengatasi demamnya. Alhamdulillah anak saya cocok memakai produk ini dan karena itulah produk ini telah menjadi salah satu penghuni kotak obat di rumah kami.

Adakah yang punya cerita yang sama dengan saya tentang anaknya yang terserang demam? Yuk bagi ceritanya di kolom komentar :)


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.


Lakudo, 15 Desember 2017

Comments

  1. Aku pas anak2 bayi juga gitu mba. Biayanya bawang merah sama minyak balurin ke tubuh. Klo itu nggak mempan..baru obat

    ReplyDelete
  2. Kecilnya Vani paling sering sakit perut mbak, tapi setelah besar Alhamdulillah hilang sendiri. Kalau demam juga sering dan andalan saya membawanya ke Bidan yang tidak jauh dari rumah :)

    ReplyDelete
  3. Samaaaa... aku juga pakai tempra buat anakku, lebih aman klo nurunin panas :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kisah Saya, Dahlia, Anyang-anyangan & Prive Uri-cran

Beberapa waktu lalu, pada pukul sebelas malam, saat saya hendak bersiap-siap merebahkan diri di pembaringan tiba-tiba ponsel saya berdering. Di layar ponsel muncul nama sahabat (sebut saja Dahlia) yang tinggal di luar kota. Segera saya angkat teleponnya. Dari suaranya yang tertahan, saya tahu ia sedang menangis dan menahan sakit.
Saya bertanya, apa yang terjadi padanya. Mengapa ia menelepon selarut ini? Suaranya bergetar saat menjawab "pipis saya berdarah, Ra". Lantas ia mulai bercerita bahwa sudah setengah jam lamanya bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia takut karena setiap kali buang air kecil selalu disertai dengan rasa sakit dan perih, urine yang keluar juga hanya sedikit tidak selancar biasanya. Puncak ketakutannya hingga memutuskan menelepon saya selarut itu adalah saat ia menyadari urinenya bercampur darah.

Tokek Oh Tokek

Saat mata nyaris tak bisa diajak kompromi, maka memejamkannya adalah pilihan terbaik. Namun baru saja kepala ini menyentuh bantal, sayup-sayup terdengar suara yang cukup akrab yang sering saya dengar di rumah mertua sehingga membuat mata ini kembali terjaga. Yap, suara yang saya dengar itu adalah suara TOKEK.

Saya tahu, suara tokek itu tidak berasal dari rumah ini karena bunyinya terdengar dari arah yang jauh. Sepertinya itu suara tokek dari rumah tetangga atau tokek liar yang hidup di pohon di luar sana. Tapi sesayup apapun bunyinya, suara tokek tetap saja terdengar mengganggu di telinga saya, huhuhu.


Ngomong-ngomong tentang tokek, saya jadi pengen cerita tentang tokek yang ada di rumah mertua nih. Jadi, ada banyak banget tokek di rumah mertua. Saya bilang banyak karena jumlahnya memang tidak biasa bila dibandingkan dengan jumlah tokek di rumah orang lain.

Di rumah orang lain, jumlah tokeknya mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja tapi tokek di rumah  mertua jumlahnya lebih banya…