Tokek Oh Tokek

by - Thursday, January 25, 2018

Saat mata nyaris tak bisa diajak kompromi, maka memejamkannya adalah pilihan terbaik. Namun baru saja kepala ini menyentuh bantal, sayup-sayup terdengar suara yang cukup akrab yang sering saya dengar di rumah mertua sehingga membuat mata ini kembali terjaga. Yap, suara yang saya dengar itu adalah suara TOKEK.

Saya tahu, suara tokek itu tidak berasal dari rumah ini karena bunyinya terdengar dari arah yang jauh. Sepertinya itu suara tokek dari rumah tetangga atau tokek liar yang hidup di pohon di luar sana. Tapi sesayup apapun bunyinya, suara tokek tetap saja terdengar mengganggu di telinga saya, huhuhu.



Ngomong-ngomong tentang tokek, saya jadi pengen cerita tentang tokek yang ada di rumah mertua nih. Jadi, ada banyak banget tokek di rumah mertua. Saya bilang banyak karena jumlahnya memang tidak biasa bila dibandingkan dengan jumlah tokek di rumah orang lain.

Di rumah orang lain, jumlah tokeknya mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja tapi tokek di rumah  mertua jumlahnya lebih banyak dari itu. Di dapur saja, paling sedikit ada empat ekor mulai dari yang kecil hingga yang ukurannya sebesar tulang tangan saya, belum lagi yang ada di ruangan lainnya. Entah mengapa populasi tokek ini kok cepat banget berkembangnya padahal dulu mereka tak pernah ada di sana, huhuhu

Sebenarnya tidak akan menjadi masalah bila saya tak takut sama binatang ini, toh dia mirip seperti cicak kan? Jadi anggap aja cicak yang diam-diam merayap di dinding. Tapi masalahnya adalah sejak kecil saya geli banget pada binatang ini. Sungguh, dia termasuk dalam salah satu binatang yang paling saya takuti atau ogah banget berurusan dengannya. Jangankan dihampiri, melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk ini berdiri.

Sejak kecil, saya sudah takut banget dengan binatang melata yang satu ini. Saya tak tahu apa sebabnya tapi kemungkinan besar karena sering dengar bahwa tokek itu melengket di kulit. Bila ia lompat dan hinggap di kulit kita maka ia akan nempel dan tak akan lepas hingga kulit kita luka. Karena itulah saya menjadi sangat takut pada tokek, saya takut ia menempel di kulit saya dan tak mau lepas.

Lanjut tentang tokek di rumah mertua..

Saat ke dapur beberapa kali saya bertemu tokek yang lagi mejeng dengan santainya. Bila melihatnya biasanya saya akan lari atau memanggil suami agar segera mengusirnya dan baru kembali ke dapur setelah tokeknya pergi. Karena tahu saya takut pada tokek, anak saya jadi sering melapor tentang keberadaan tokek ini. Saat ia melihat ada tokek di dapur, ia akan segera bilang bahwa di sana ada tokek dan melarang saya ke dapur. Ia baru membolehkan saya ke dapur setelah memastikan tokeknya sudah benar-benar pergi.

Pernah di suatu pagi ada kejadian kurang menyenangkan terkait si tokek ini. Pagi itu suami minta dibuatkan kopi. Sambil bersenandung saya memasukkan gula + kopi ke dalam gelas dan ketika hendak mengambil termos air panas untuk dituangkan ke gelas yang berisi kopi, tiba-tiba seekor tokek melompat ke perut saya.

Saya kaget, shock, takut, tanpa sadar berteriak dan menangis histeris. Suami dan anak saya sampai kaget mendengar teriakan saya yang entah berapa oktaf itu. Termos air panas jatuh dan pecah. Saat suami dan anak tiba di dapur, mereka mendapati saya sedang duduk menangis memandangi tokek yang telah lari menyelamatkan diri. Mungkin tokeknya juga kaget mendengar teriakan saya, hahaha

tokek sebesar ini ada di kamar kami :(

Dan beberapa bulan ini kami harus menerima kenyataan pahit, bila dulu tokek-tokek itu hanya berkeliaran di dapur, akhir-akhir ini mereka sudah mulai berani masuk dan berkeliling ke ruangan-ruangan di dalam rumah mulai dari ruang keluarga, ruang tamu, teras hinggaa... KAMAR KAMI. Oh Tuhan saya jadi takut masuk ke kamar sendiri. Saya sungguh tak berani masuk ke kamar bila tak ada suami atau anak saya.

Kami pernah bangun di pagi hari dan di dinding kamar sudah menempel dengan gagahnya si tokek belang. Anak saya yang pertama kali melihatnya. Tokek itu memandang kami yang sedang bingung memikirkan bagaimana caranya ia bisa masuk ke kamar yaa? Padahal pintu kamar selalu kami tutup.

Di rumah mertua, melihat tokek berkeliaran adalah hal yang biasa saja. Suara tokek yang terdengar hampir setiap saat bukanlah hal yang aneh lagi. Para penghuni rumah sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. Hanya saya satu-satunya yang sampai saat ini masih menjerit ketakutan melihat tokek dan masih merasa terganggu saat mendengar suaranya.

Suami bahkan asyik-asyik saja bermain game ditemani tokek, hahaha

suami tak terganggu sedikit pun dengan si tokek

Hmmm semoga tokek-tokek itu segera hengkang dari rumah mertua, amiiin..

Baubau, 25 Januari 2018

You May Also Like

36 komentar

Labels

Blog Archive

Pengikut