Skip to main content

Dementor

pic source: pixabay.com

Beberapa jam lalu saat suasana hati sedang berbunga-bunga, tiba-tiba saya mendapat kabar buruk yang sukses menghapus warna-warni di hati dan pikiran saya menjadi awan kelabu. Apa pasal? Saya mendapat kabar yang sangat menakutkan. Saat sedang asyik bersenandung sambil melipat pakaian, sebuah pesan di whatsapp yang berasal dari adik saya masuk "Or, saya lihat ada tikus got masuk ke kamarmu". Fyi, saat ini saya sedang di Lakudo sedangkan kamar yang kemasukan tikus adalah kamar di Bau-Bau.

Pesan itu seketika membuat saya takut dan panik. Oh Tuhan, bagaimana bisa binatang kotor itu masuk ke kamar saya? Tikus yang ukurannya kecil saja sudah membuat saya panik dan stres apatah lagi yang ukurannya sebesar kucing ABG itu, huhuhu :(

Segera saya telepon adik saya untuk memastikan kabar buruk itu dan dengan suara lemah adik saya membenarkan kabar itu. Ia bahkan menambahkan kalimat ini "saya aja takut banget loh melihat wujud tikusnya, soalnya besar banget". Saluran telepon saya putus dengan perasaan kalut. Kalau adik saya sudah merasa takut, berarti tikusnya memang benar-benar besar. 

Sejak mendengar kabar itu beberapa jam lalu, rasa takut dan panik terus saja menghiasi pikiran saya. Beragam cara saya lakukan agar hati ini bisa tenang sehingga bisa menemukan solusi melenyapkan tikus itu, seperti ngobrol santai dengan suami sambil menikmati semangkuk indomie rebus campur telor tapi rasa takut itu tetap saja betah dan tak mau beranjak. 

Hati saya baru mulai merasa sedikit tenang saat mata ini tak bisa lagi diajak kompromi. Saya baru sadar, rupanya ngantuk bisa menjadi penawar rasa takut dan gelisah. Namun baru saja perasaan ini mulai tenang dan hendak bersiap-siap tidur, tiba-tiba saya dikejutkan lagi oleh kehadiran seekor tokek yang ukurannya jauh di atas rata-rata.


Saat hendak mengoleskan krim malam pada wajah (walau kalut, wajah tetap harus dirawat dong yaa), tokek itu memandang saya lekat-lekat dan tatapannya sukses memancing rasa takut yang sebelumnya mulai berkurang. Hilang sudah rasa kantuk yang sebelumnya saya rasakan berganti dengan rasa khawatir. Dan karena itulah hingga saat ini saya belum lagi merasa ngantuk. Begadang lagi nih, semoga besok pagi gak telat bangun, amiiin.

Huhuhu, kenapa sih tokek itu harus memunculkan dirinya saat saya hendak bersiap-siap tidur? Mengapa ia tak muncul saja di saat saya sudah terlelap agar ia tak mengganggu jadwal tidur saya? Tidak kah ia tahu saya butuh istirahat yang cukup supaya bisa tampil fit dalam beraktivitas keesokan harinya?

Sepertinya dua binatang tak lucu itu memang bersekongkol untuk menghisap kebahagiaan saya malam ini. Mereka sukses menabur teror yang memancing rasa cemas dan takut di hati dan pikiran saya.

Lakudo, 19 Maret 2018

Comments

  1. Kerjasama kali ya mbak, 2 ekor tersebut. Hiks, aku kira berita apaan, ternyata tikus. Kalau di rumahku sudah dieksekusi mati sama bapak, JEDARR... Auto mati tikus nya. Emag selain geli juga menyebarkan bau busuk yang setara dengan ujaran kebencian. Kena pasal berapa tikus tu ? Hahahahah, maaf nge curcol, salam dari #DuniaFaisol

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kisah Saya, Dahlia, Anyang-anyangan & Prive Uri-cran

Beberapa waktu lalu, pada pukul sebelas malam, saat saya hendak bersiap-siap merebahkan diri di pembaringan tiba-tiba ponsel saya berdering. Di layar ponsel muncul nama sahabat (sebut saja Dahlia) yang tinggal di luar kota. Segera saya angkat teleponnya. Dari suaranya yang tertahan, saya tahu ia sedang menangis dan menahan sakit.
Saya bertanya, apa yang terjadi padanya. Mengapa ia menelepon selarut ini? Suaranya bergetar saat menjawab "pipis saya berdarah, Ra". Lantas ia mulai bercerita bahwa sudah setengah jam lamanya bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia takut karena setiap kali buang air kecil selalu disertai dengan rasa sakit dan perih, urine yang keluar juga hanya sedikit tidak selancar biasanya. Puncak ketakutannya hingga memutuskan menelepon saya selarut itu adalah saat ia menyadari urinenya bercampur darah.

Merawat Rambut Rusak Dengan Emeron Complete Hair Care

Alkisah, lima belas tahun silam hiduplah seorang gadis belia yang duduk di bangku kelas 3 sebuah SMA Negeri di salah satu kecamatan di Kabupaten Buton. Tak seperti teman-temannya yang ceria, ia justru terlihat murung dan sedih. Apakah gerangan penyebab awan hitam di wajah gadis belia tersebut? Bukan, bukan karena nilainya di sekolah bermasalah, bukan pula karena patah hati lantaran ditinggal orang tercinta, tak lain karena ia sedang stres memikirkan rambutnya yang sudah berbulan-bulan rontok.
Di rumahnya, tak terhitung banyaknya helai rambut yang berceceran di lantai. Di bantal saat bangun tidur, di bawah ranjangnya, di sisir, di kamar mandi, di ruang tv, di teras. Kata kasarnya, di hampir semua sudut rumah pasti ada ceceran rambut rontok si gadis belia. Bahkan saking parahnya, di bawah kursinya di sekolah kerap terlihat beberapa helai rambut miliknya. Ia merasa ceceran rambut rontok itu bagai bayangan yang selalu mengikuti kemana ia pergi.

Tokek Oh Tokek

Saat mata nyaris tak bisa diajak kompromi, maka memejamkannya adalah pilihan terbaik. Namun baru saja kepala ini menyentuh bantal, sayup-sayup terdengar suara yang cukup akrab yang sering saya dengar di rumah mertua sehingga membuat mata ini kembali terjaga. Yap, suara yang saya dengar itu adalah suara TOKEK.

Saya tahu, suara tokek itu tidak berasal dari rumah ini karena bunyinya terdengar dari arah yang jauh. Sepertinya itu suara tokek dari rumah tetangga atau tokek liar yang hidup di pohon di luar sana. Tapi sesayup apapun bunyinya, suara tokek tetap saja terdengar mengganggu di telinga saya, huhuhu.


Ngomong-ngomong tentang tokek, saya jadi pengen cerita tentang tokek yang ada di rumah mertua nih. Jadi, ada banyak banget tokek di rumah mertua. Saya bilang banyak karena jumlahnya memang tidak biasa bila dibandingkan dengan jumlah tokek di rumah orang lain.

Di rumah orang lain, jumlah tokeknya mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja tapi tokek di rumah  mertua jumlahnya lebih banya…