Diet Karbo Malam Hari

By Irawati Hamid - August 01, 2018

pic source: pixabay.com

Malam ini adalah malam kesepuluh saya tak makan nasi. Ya, kalian tak salah baca, sudah sembilan malam (karena satu malam gagal yaitu pada malam keenam) terakhir saya DIET alias tidak makan nasi (karbohidrat) pada malam hari, hehehe 😀😀

Berita ini mungkin terdengar lucu (aneh?) di telinga teman-teman yang mengenal saya dalam keseharian atau sering berinteraksi dengan saya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hati mereka mungkin akan muncul pertanyaan seperti ini "dengan bentuk tubuh yang tergolong kurus seperti itu kok masih nekat diet sih?"

Hehehe, memang tidak salah bila mereka mengajukan pertanyaan seperti itu karena sejak dulu banyak yang bilang bahwa tubuh saya memang tergolong kurus. Dengan tinggi badan 157 cm, berat badan saya saat terakhir kali menimbang adalah 48 kg. Hmmm, memang kurus kah?

Dibilang kurus sebenarnya tidak sepenuhnya benar, yang benar adalah bentuk tubuh saya tidak proporsional. Ada bagian-bagian di tubuh saya yang menebal (menggembung), khususnya di bagian perut dan pipi. Dugaan saya, penyebabnya karena selama ini pola makan malam saya salah. Saya akui, hampir setiap hari saya makan malam (nasi+lauk) di atas jam 20.00, akibatnya dalubi (kulit perut) saya semakin bergeser ke depan alias membuncit 

Dan karena saya menganggap makan malam (nasi) adalah penyebab perut buncit yang saya derita, jadilah sejak malam selasa minggu lalu (tanggal 23 Juli 2018) saya putuskan untuk puasa makan nasi pada malam hari. Nasi atau karbohidrat yang biasanya setia menemani, saya ganti dengan buah.

pepaya jadi buah favorit

Alhamdulillah sudah sepuluh malam saya menjalani diet karbo ini. Walau belum terlihat ada perubahan yang signifikan pada bentuk perut dan pipi saya tapi saya bertekad akan terus menjalani diet ini, entah sampai kapan. Saya yakin pasti bisa! Doakan semoga saya istiqomah menjalaninya yaa.

Baca Juga: Lauk Sahur Andalan di Penghujung Ramadhan

Lalu apakah diet ini tak menemui kendala? Hohoho, kendalanya jangan ditanya. Sejak malam pertama, niat mulia ini sudah diragukan oleh adik saya."Yakin nih mau diet? Dalam waktu sebulan saya yakin kamu bakalan kembali pada kebiasaan lama" begitu katanya sambil tersenyum penuh arti.

Pertanyaan serupa juga diajukan suami saya. Dia bahkan beberapa kali menawari saya makan camilan dan indomi rebus yang sangat sulit saya tolak. Belum lagi anak saya yang tidak menghabiskan makan malamnya yang kemudian sisa makanan tersebut ditawarkannya kepada saya yang sedihnya juga tak bisa saya tolak, huhuhu. Nyesal banget deh setelah makan 

Ya, harus saya akui bahwa selama sepuluh malam menjalani diet karbo ini, pernah satu malam (malam minggu kemarin) saya kecolongan karena gagal menahan nafsu, saya khilaf dan tergoda oleh tawaran Wahyu dan papanya. Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, amiiin.

Oh iya, maafkan bila tulisan ini tak berfaedah, saya sengaja menulis cerita  tak penting ini agar kelak dapat menjadi pengingat bila semangat diet saya mulai kendor. Atau bila pun saya tak berdiet lagi, tulisan ini bisa jadi pengingat bahwa dulu saya pernah berdiet untuk mengecilkan dalubi yang semakin menebal, hehehe


Baubau, 01 Agustus 2018

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Ayoo ayoo semangat diet..
    Kalo saya sih ga kuat sehari ga makan nasi..
    Jadi diet buat saya itu Mustahil wkwk..

    Tapi keren artikelnya ini.. Mantep.

    ReplyDelete