Rumah Kami Kebanjiran

by - Thursday, January 17, 2019


Tulisan pertama di tahun 2019 ini dibuka dengan berita kurang menyenangkan yang kami alami tadi malam. Yap, seperti judul, rumah kami kebanjiran, huhuhu :(

Jujur aja, selama beberapa tahun tinggal di kota ini dan beberapa kali pindah rumah, baru di rumah ini saya mengalami kejadian tragis (maaf pemilihan katanya terkesan lebay, tapi begitulah yang saya rasakan) yang bernama BANJIR ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan merasakan apa yang dirasakan oleh teman-teman di Jakarta yang setiap musim penghujan selalu berhadapan dengan banjir.

Di rumah ini, tadi malam bukanlah kali pertama kali kami kebanjiran. Pada bulan November lalu, saat awal musim penghujan datang, kami juga pernah kebanjiran, tapi kali itu saya tak secemas semalam. Dan salahnya, kami tidak melakukan tindakan preventif untuk mencegah datangnya banjir di waktu mendatang. Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan tetangga kami yang mulai menutup sebagian pintunya dengan beton untuk mencegah masuknya air bila terjadi hujan lagi. Saat itu kami abai dan menganggap remeh masalah banjir ini, ternyata tindakan abai itu membuat kami menyesal. Memang yaa, penyesalan selalu datang terlambat :(

Malam tadi, saya benar-benar dibuat kaget, bagaimana tidak, hujan baru turun sekitar 15 menit tiba-tiba saja air selokan deras banget masuk ke dalam rumah. Parahnya, saat air mulai naik, adik saya membuka pintu rumah dengan niat mengajak kucing tak bertuan yang biasa mangkal di depan rumah untuk masuk ke dalam rumah, ia khawatir bila kucing itu dibiarkan di luar rumah, kucing itu akan terseret dan tenggelam oleh banjir. Ternyata tindakannya itu membuat air semakin banyak masuk ke dalam rumah dan menenggelamkan beberapa barang.

Jujur saja, saat air masuk ke dalam rumah saya panik. Sekuat tenaga berusaha menyurutkan air yang semakin tinggi dengan menimbanya ke dalam ember kemudian membuangnya ke kamar mandi. Dalam kepanikan saya juga merasa takut banget dengan efek dari banjir ini. Saya takut banjir ini memberi dampak buruk pada kehamilan saya. Sembari membuang air kotor, pikiran saya melayang-layang, apakah air selokan yang pastinya bercampur berbagai bakteri, virus dan kuman-kuman berbahaya lainnya ini tak akan berpengaruh apa-apa pada kandungan saya? Huhuhu saya takut banget karena saat menimba air itu saya tidak pake sarung tangan. Ya Allah, lindungi hamba dan bayi yang hamba kandung dari hal-hal buruk, amiiin :'(

Saya hanya bisa menangis dan pasrah karena saat musibah ini datang suami tidak sedang bersama saya. Di rumah, saya hanya berdua dengan adik. Kami bahu membahu membersihkan rumah. Dan karena saya sedang hamil, saya hanya bisa membersihkan lumpur dan air yang ada di kamar saya saja, sedangkan ruang lainnya di rumah dibersihkan oleh adik saya. Berat banget rasanya membersihkan sisa-sisa lumpur di lantai kamar tapi harus saya lakukan karena malu banget rasanya minta tolong pada adik untuk membersihkan kamar saya. Dia sudah cukup capek membersihkan seluruh ruangan lain di rumah ini. Kasihan bila masih harus ditambah satu ruangan lagi karena besok paginya ia masih harus masuk kantor pula.

Karena masih was-was akan terjadi banjir lagi, semalam saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya baru bisa tertidur sekitar pukul 01. 00 dini hari. Saya tidak tahu adik saya tidur jam berapa tapi sepertinya ia juga sama, tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir banjir akan datang lagi.

Saat sedang membersihkan rumah dari lumpur, kami bertekad untuk menutup bagian bawah pintu rumah kami agar saat hujan deras turun, air tidak masuk lagi ke dalam rumah. Siang tadi kami mulai membeli bahan-bahan yang diperlukan seperti batu bata, pasir dan semen. Saat pulang kantor tadi sore, saya melihat adik sudah menutupnya. Semoga setelah ini kami tidak lagi mengalami hal buruk ini lagi.

Saat saya menulis cerita ini, hujan sedang turun dengan manjanya di luar sana. Harapan saya, malam ini saya dan adik sudah bisa tidur nyenyak tanpa dihantui ketakutan akan terjadinya banjir lagi. Dan semoga kami tak pernah mengalami banjir lagi di waktu-waktu mendatang. Aamiin.


Baubau, 17 Januari 2019

You May Also Like

25 komentar