Selamat Jalan, KAY!

by - Sunday, February 10, 2019

saya memanggil mereka: Trio kwek-kwek, hehehe

Bulan Oktober 2015 kucing peliharaan kami yang tinggal di rumah mama ditemukan mati. Sepertinya ia mati akibat makan racun, karena mulutnya berbusa saat jasatnya ditemukan. Saat dikabari mama perihal kepergian Dandy (nama kucing itu), saya dan adik-adik sangat sedih. Butuh waktu lama bagi kami untuk melupakan kesedihan itu. Saking sedihnya, mama ogah untuk memelihara kucing lagi. Kucing hanya membawa kesedihan ketika mereka meninggalkan kita, kata mama.

Ya, Dandy bukanlah satu-satunya kucing yang kami pelihara. Sebelumnya sudah ada beberapa ekor, tapi semuanya berakhir sama, mati setelah menorehkan banyak kenangan manis kepada kami, tuan-tuannya. Entah mengapa, kucing jantan memang tak pernah berjodoh dengan kami. Setiap menginjak usia remaja, biasanya mereka mati. Hanya Dandy yang usianya mencapai 5 tahun, sebelum-sebelumnya paling lama hanya berusia 1.5 tahun saja.


Dandy, kucing kesayangan kami
Mama membuktikan ucapannya. Setelah kepergian Dandy, tak ada lagi kucing di rumah mama, hingga adik bungsu saya balik dari Kendari pada akhir 2017 lalu. Ada seekor kucing tetangga yang ditengarai adalah anak Dandy. Adik saya yang sangat menyayangi Dandy, membujuk mama agar mau menerima kehadiran kucing itu. Mama pun luluh, dengan satu syarat, adik saya hanya boleh memberinya makan tapi bukan untuk dipelihara (adik saya setuju karena kucing betina tersebut memang kucing tetangga).

Saking seringnya diberi makan, kucing tersebut jadi akrab dengan adik dan mama saya. Hampir setiap waktu dia nongkrong di teras rumah mama, berharap diberi makanan. Tak lama kemudian, si kucing hamil dan melahirkan dua ekor anak yang lucu-lucu. Saya langsung jatuh hati pada anak-anak kucing itu saat pertama kali melihatnya.

Setiap minggu saya sempatkan waktu datang ke rumah mama, selain untuk menengok mama juga untuk mengobati rasa rindu pada dua ekor anak kucing yang bulunya sangat mirip dengan kakeknya (Dandy) itu. Oleh adik saya, dua anak kucing itu diberi nama Kay dan Alex.

Kay & Alex


Kay dan Alex tumbuh menjadi kucing yang sehat dan lucu. Saya dan adik-adik sangat menyayangi mereka. Walau mereka adalah kucing tetangga, tapi kami menganggapnya sebagai kucing sendiri (secara mereka adalah cucu Dandy kan yaa, hehehe). Dan mungkin karena bisa merasakan apa yang kami rasakan, kucing-kucing tersebut sepertinya merasa kami adalah majikan mereka. Mereka mulai berani masuk ke dalam rumah bila pintu terbuka.

Waktu terus berjalan dan tanpa terasa mereka mulai beranjak remaja. Rasa takut akan kehilangan mereka perlahan mulai menyusup di hati saya. Takut kejadian yang lalu-lalu terulang kembali, kucing-kucing jantan remaja ini satu persatu meninggalkan kami. Saya berusaha menepis rasa itu dengan menanamkan pikiran positif, bahwa mereka akan sehat selalu, toh mereka memiliki fisik yang kuat dan lincah, jadi saya tak perlu khawatir. Lagi pula adik saya selalu memberi makanan sehat pada mereka.

Tapi bulan lalu, ketakutan saya itu menjadi nyata, hiks. Kay, salah satu anak kucing yang fisiknya terlihat sangat sehat itu tiba-tiba menghilang dan tak datang lagi ke rumah mama. Wandi, cucu si empunya kucing mengabarkan bahwa Kay sakit dan mati. Adik saya tak percaya karena sehari sebelumnya dia masih sempat bermain bersama. Kay masuk ke dalam rumah dan bermain-main dengan adik saya. Saat itu Kay terlihat sangat sehat, tak ada tanda-tanda ia sakit.

Adik saya segera mengabarkan kabar duka itu pada saya. Tapi ia yakin Kay masih hidup. Adik saya meminta Wandi untuk mencari keberadaan Kay dan alhamdulillah Kay ditemukan masih hidup tapi badannya lemas. Oleh Wandi, Kay dibawa ke rumah mama. Adik saya langsung memberinya makan tapi ia tak mau menyentuh makanannya. Tak lama kemudian ia pergi dan sampai hari ini ia tak pernah kembali lagi. Kata adik saya, sepertinya Kay sudah benar-benar pergi meninggalkan kami. Hiks :'(

Kay yang sedang malas diajak berfoto
Selamat jalan, Kay. Terimakasih sudah memberikan banyak kenangan indah kepada kami, terutama saya. Dua minggu sebelum kepergianmu, saat saya berlibur di rumah mama, engkau masih memanggil-manggil untuk dibukakan pintu agar bisa masuk ke dalam rumah. Saya membukakanmu pintu dan kamu bermain-main dengan Wahyu, anak saya. Ternyata saat itu adalah pertemuan terakhir kita :'(


Lakudo, 10 Februari 2018

You May Also Like

26 komentar