Terjebak & Tertipu

By Irawati Hamid - February 18, 2019

pic source: pixabay.com
Judulnya lebay yaa, tapi begitulah yang saya rasakan tadi siang (bahkan sampai sekarang rasa kesalnya masih belum hilang) saat diberitahu suami bahwa tetangga yang bekerja membersihkan kintal kami (sebut saja Mr. X) meminta tambahan upah hampir 2 kali lipat dari yang saya berikan kemarin sore.

Sebenarnya saya tidak akan sekecewa ini bila sejak awal si Mr. X ini memberitahu berapa upah yang harus kami bayar atas tenaga yang dia keluarkan untuk menebang beberapa pohon jambu mete yang ada di lahan yang hendak kami bangun rumah di atasnya. Tapi yang terjadi adalah dia hanya diam saja ketika menerima upah yang saya berikan dan baru meminta tambahan upah tadi siang sembari berkata tidak akan membersihkan dahan pohonnya bila upahnya tidak dilunasi. Lah yang saya kasih kemarin itu apaaaa? Huhuhu, bikin emosi deh.

Sejak awal, saya dan suami tidak pernah berniat meminta dia untuk menebang pohon jambu mete sekaligus membersihkan sisa-sisa dahannya. Dialah yang menawarkan diri pada suami saat suami bertanya dimana bisa mendapatkan seseorang yang bisa dimintai tolong menebang pohon karena kawan suami yang sebelumnya hendak kami minta untuk melakukannya sedang tidak bisa karena senso atau alat pemotong kayunya rusak.

buah dari pohon jambu mete yang hendak ditebang
Saat suami bertanya, Mr. X dengan senang hati menawarkan diri. Mendengar tawarannya, suami langsung bertanya tentang upah yang harus kami bayarkan. Dengan santainya dia menjawab "alaah janganlah memusingkan hal itu, gampang itu, semua bisa diatur". Suami bingung mendengar jawabannya, saya lebih bingung lagi, tapi saya tetap memaksa suami untuk bertanya, karena bagi saya tenaga orang yang kita pakai harus dihargai dengan layak.

Lagian, menyebutkan upah di awal itu tidak salah dong yaa? Justru lebih bagus dan terbuka karena ketidakcocokan bisa ditemukan dan dicarikan solusinya sejak awal, misalnya bila ia meminta upah terlalu tinggi, mungkin kami masih bisa meminta diturunkan nilainya, bila tidak sepakat yaa kerjasamanya dibatalkan. Batasan pekerjaan juga lebih jelas jadi tak perlu penjelasan berulang. Intinya kami mau kejelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman di akhir nanti tapi dia terus menghindar.

Suami terus bertanya pada Mr. X tapi jawabannya tetap sama saja alias dia menggampangkan semuanya. Bagi saya jelas, bila belum ada kesepakatan upah, maka pekerjaan itu belum bisa dikerjakan. Saya dan suami belum mengiyakan permintaan Mr. X.

Sampai kemudian kemarin siang kami ke rumah mama dan lewat di samping rumahnya, dia bertanya lagi, kapan akan menebang pohonnya karena katanya sudah menyiapkan semua alat yang digunakan. Saat itu dia meminta suami untuk mengantarnya ke lokasi tapi suami berkata nanti saja setelah kami pulang dari rumah mama. Lagi-lagi upah menjadi alasan mengapa kami belum mengiyakan ia melakukan pekerjaan itu.

Dia setuju dengan perkataan suami, katanya dia akan menunggu hingga kami balik dari rumah mama. Namun yang terjadi setelah kami pulang dari rumah mama tidaklah seperti yang awalnya direncanakan. Ternyata, tanpa aba-aba dari kami, dia sudah menebang pohon jambu. Dan yang menjengkelkan adalah dia hanya menebang saja, dahan-dahan pohonnya dibiarkan begitu saja.

Karena pohon jambu sudah terlanjut ditebang, mau tidak mau kami harus membayar upahnya (yang masih belum kami ketahui berapa nilainya) dong yaa. Suami mengajak saya ke rumah Mr. X untuk bertanya sekaligus membayar upahnya. Untuk kesekian kalinya kami bertanya "berapa upah yang harus kami bayar?" Dan jawabannya masih tetap tidak jelas "jangan pusingkan hal itu, kasih berapa saja yang hendak kalian kasih, saya akan menerimanya". Arggggh, jujur saya kesal banget menerima jawaban seperti itu. Setelah memperhitungkan semuanya, saya bayarlah upahnya (walau hati saya tidak tenang karena tidak ada kesepakatan sejak awal).

Upah itu saya berikan pada isterinya (tentu di situ ada Mr. X) dan si isteri menerimanya sambil tersenyum. Saat memberikan upah itu, saya meminta agar dia memindahkan dahan-dahan pohon yang tadi ditebangnya ke samping atau ke tanah bagian belakang karena kami akan membangun pondasi rumah di atas lahan yang pohonnya di tebang tadi. Mr. X menyanggupi apa yang saya minta, lagi-lagi tanpa meminta upah (dan saya menganggap memindahkan dahan-dahan itu sudah satu paket dengan menebang pohonnya). Ia menyanggupi akan melakukannya esok hari (tadi siang) saat cucu-cucunya sudah pulang dari sekolah.

Tapi betapa kagetnya saya saat tadi siang suami menelepon untuk memberitahukan bahwa Mr. X menolak untuk membersihkan dahan-dahan yang berserakan itu bila upahnya tidak ditambah. Tak tanggung-tanggung, ia meminta hampir 2X lipat dari yang saya berikan kemarin. Katanya, ia tidak akan membersihkan dahan-dahannya bila sisa upah yang dia minta itu tidak diberikan. Seketika emosi saya tersulut. Apa sih maunya orang itu? Huhuhu, dia melakukan pekerjaan itu tanpa kesepakatan, sejak awal dia menggampangkan semuanya dengan bilang bahwa soal upah itu gampang dan tidak usah dipikirkan, seolah-olah bagi dia upah itu tidak penting. Lalu mengapa sekarang sikapnya berubah?

Dengan penuh emosi, saya katakan pada suami, ya sudah tidak usah dibersihkan dahan-dahan pohon itu, biarkan saja berserakan. Saya benar-benar merasa terjebak, saya dipaksa mengiyakan apa yang belum saya setujui. Saking emosinya, saya tidak bisa menahan tangis karena merasa dikhianati dan ditipu. Dalam hati saya berkata, cukup sekali ini saya berurusan dengan Mr. X. Cukup!

Pelajaran penting yang bisa saya ambil dari kasus ini adalah jangan pernah sekalipun menggampangkan sebuah perjanjian, terutama yang berhubungan dengan uang. Sebelum bekerjasama, usahakan untuk membahas hak dan kewajiban sejelas-jelasnya agar tidak ada yang merasa tertipu dan dirugikan.

Dengan siapapun kita hendak bekerjasama, aturan mainnya harus jelas karena uang itu panas, Ferguso! Bahkan saudara sedarah saja bisa bertengkar hebat karena uang, apalagi hanya tetangga. Dan satu lagi, bila ada yang mengajak kerjasama dan menggampangkan semuanya, lebih baik tolak mentah-mentah sedari awal, jangan sampai tertipu seperti yang saya alami.

Maafkan bila tulisan ini tak berfaedah sedikitpun yaa, sengaja saya menulisnya  untuk meredakan emosi dan rasa sedih yang saya rasakan



Baubau, 18 Februari 2019

  • Share:

You Might Also Like

36 komentar

  1. Duh ngenes banget ih bacanya kebawa kesel sama kelakuan Mr. X sok iye manis diawal gak usah dan gak usah ya. Ya ampun kayak bukan sama tetangga aja ya. Huhuuu

    ReplyDelete
  2. Di kampung saya ada kesepakatan soal upah, seperti jadi buruh tani atau bangunan, sudah jelas upah standarnya karena merupakan hal umum. Kalau urusan menebang pohon memang mestinya satu paket kayak tebang dan bersihkan serta dari awal ada perjanjian soal upah. Nah, suami juga gitu kalau terima kerja. Ditanya dulu berapa, jawab apa adanya sesuai stamndar. Kalau mau lebih itu karena ada tambahan lain seperti lebih berat. Misal jam kerja dari jam 7 pagi sampai jam setengah 5 sore, jadi laden mah 70 ribu. Kalau misal diminta tebang pohon lalu ternyata berat dan lama akan ada tambahan upah untuk esok harinya dan disesuaikan apakah jadi 2 hari kerja atau 1 setengah hari kerja. Jadi tambahannnya wajar, antara 35 ribu atau 70 ribu tanpa makan hanya tambahan camilan, kopi dan rokok saja.
    Saya tak paham dengan kinerja Mr X itu. Gak bagus bagi nama baik dan jalan rezekinya, terlalu serakah akan mengecewakan dan dijauhi orang lain.
    Semoga saja Mbak tak berurusan lagi dengan insan demikian. Masa kerja mestinya berlaku sesuai upah standar, bukan dia meminta lebih bahkan sembarangan. Duh.

    ReplyDelete
  3. Saya setuju dengan Mbak Ira. Kalau menghadapi oknum seperti itu jangan diturutin kemauannya. Mending gak usah minta tolong dia untuk membereskan. Lebih baik mencari orang lain yang mau membantu.

    ReplyDelete
  4. saya juga selalu minta semua jelas dari awal..kalau terakhirnya malah jadi nggak jelas lebih baik batal ajaa mba kalau aku hehehe

    ReplyDelete
  5. Uang itu panas ferguso, hati juga ya mba hehe. Kesel memang kalau ada pemberi jasa seperti itu. Ga jelas banget eh ujung2nya terjebak. Sama seperti makan di tempat yg baru, saya selalu nanya harga soalnya ga mau terjebak mba. Ya kali pernah makan bakso harganya 30 ribu, baksso-nya kecil2 cuma 5 biji haduhhh.

    ReplyDelete
  6. Ikut dongkol membacanya mbak. Jadi inget teman saya seorang penjahit. Setiap saya mintain tolong bikin sesuatu, lalu saya tanya berapa ongkosnya. Dia bilang gampang. Tapi apa kenyataannya.Ongkosnya jauh lebih mahal dr harga toko... Pelajaran berharga ya mbak... Agar kita tidak asal minta bantuan orang. Harus dirinci secara jelas sebelumnya. TFS mbak.

    ReplyDelete
  7. Hm ada aja org kaya gitu ga komitmen ya. Tapi mgkn ini senjata klo kita lg dongkol : kita ga bisa mengendalikan vibrasi dr luar, yg bs kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri. Moga cpt ga dongkol ya mba

    ReplyDelete
  8. Jadi pelajaran buat aku juga nih mbak, sebaiknya deal di awal dulu ya kalau soal upah, apalagi sama tetangga jadinya suka gak enak ya. Paling males kalau jawabnya gampanglah, trus di akhir nanti mintanya lebih.
    Dalam hal pekerjaan apapun akadnya harus jelas di awal ya mbak, darpada bikin emosi di belakang.

    ReplyDelete
  9. Bener jg yah harus dipastikan dulu akadnya, kalau gak jelas begini peluang YBS bisa menipu lbh banyak, ini trik yg sring sy temukan di pasar jg, ukh bikin jengkel

    ReplyDelete
  10. Kesel juga aku sama Mr. X ini, pelajaran bagi kita semua ya mba, jika melakukan transaksi itu memang harus jelas dari awal, jika belum ada kesepakatan maka transaksi itu belum sah.. kalo menurut saya.. karena tidak ada perjanjian hitam diatas putih ya jangan perdulikan si Mr. X itu mba, toh dia ngga kasih angka upah yang harus dia terima.. huhu.. pengen aku tenggelamkan itu Mr. X

    ReplyDelete
  11. Jadi ingat falsafah lama. "Uang tidak memiliki saudara, tidak mengenal tetangga, tidak mengenal teman, dsb. Karena uang adalah bahasa kalbu." he-he.

    Sebuah pelajaran beharga pastinya kejadian yang Mbakyu alami di atas. Memang sih, untuk hal yang berkaitan sama benda ajaib bernama uang,harusnya ada kejelasan dari awal. Tapi gara-gara Mr X menyepelekan itu, kejadian deh.Sing sabar Mbakyu. :D

    ReplyDelete
  12. Duh, aku aja yang baca ikutan kesel nih mbak. Emang sih mending kalo mau mengerjakan sesuatu sekalian aja ama tenaga profesional, kalo sama tetangga suka banyak gak enaknya apalagi kalo kejadian ngeselin kayak gini.

    Sabar yah mbak :))

    ReplyDelete
  13. Cari orang lain aja deh mba, udah bener jangan berurusan dengan orang yang begitu, dari awal memang udah ga benar dengan tiba-tiba main tebang tanpa persetujuan dulu. Duuh aku ikut emosi bacanya

    ReplyDelete
  14. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya dan mba nulis ini sangat bermanfaat bagi orang lain untuk mengambil hikmah yang sama

    ReplyDelete
  15. Nyatanya tulisan curhat seperti ini berfaedah sekali mbak. Jadi merasa diingatkan. Jangan mudah percaya dengan orang yang terlalu menggampangkan sesuatu ya. Karena bukan bermaksud zu'udshon tapi orang yang seperti ini memang biasa ada U di balik B nya. Saya pribadi kalau ngalami hal yang sama dengan mbak bakal esmosi sekali. Apalagi ini masalah uang. Ya, uang memang panas jadi pelajaran nih buat berhati2 menghadapi orang yg seperti Mr. X ini

    ReplyDelete
  16. Orang-orang macam Mr. X ini yang bikin kita suka ga percaya sama tetangga ya. Niatnya mau mbantu karena sama2 butuh, tapi kok malah ngelunjak dianya. Dikatai kita berak duit, apa???

    ReplyDelete
  17. Duh, saya yang ikutan baca juga jadi kesel ya. Kok bisa belum diiyain udah main tebang aja tu orang ya. Penasaran reputasi dia di mata tetangga2 lainnya :(

    ReplyDelete
  18. Mr. X mikir alah bayar sepantasnya saja, dia ngira Mbak Ir tahu harga pastinya alias ngarep banget dibayar mahal. Tahu kalau uangnya tidak sesuai dengan ekspektasinya, ngamuk dia nya. Mungkin seperti itu. Akan tetapi, kenapa harga tetangga tidak dipakai olehnya ya.

    ReplyDelete
  19. Iya mbak, saya juga kalau kerjasama dengan tetangga atau saudara, selalunya utamakan akad awal. Agar ga ada kayak yang mbak ceritakan itu. Pasti ada hikmahnya ya mbak meski kata mbak tak berfaedah. Tapi faedah banget

    ReplyDelete
  20. Memang sebaiknya disepakati dari awal besaran upah yang akan dibayarkan ya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus ini ya mba. Si bapak X ini nakal, tidak mau bilang jumlahnya berapa tapi menggerutu di belakang. Nggak asyik deh.

    ReplyDelete
  21. Iya nih mb Ira. Aku kalo mau minta tolong tetangga malah bingung harganya berapa. Makanya kadang mending nyari tukang beneran.

    ReplyDelete
  22. Sumpah ya saya gak suka sama orang2 kayak gitu. Ngomong di depan "santai" aja, gak taunya minta dua kali lipat.

    Kalau dalam islam memang akad muamalah harus jelas dari awal: biar gak ada gharar atau ketidakjelasan.

    Orang-orang kayak Mr. X ini kudu ditenggelamkan, hehehe

    ReplyDelete
  23. Iya mba jelas di awal tuh memang penting ya kalau enggak bs terjadi hal2 yg ga kita inginkan ke depannya heu..

    ReplyDelete
  24. Hmm gimana ya agak kesel sih sama orang kaya gitu dan sebaiknya itu memang deal di awal dan biar jelas juga agar ga kaya gini nantinya.

    ReplyDelete
  25. Nah ini nih yang jadi alasanku buat ga manggil tetangga kalau mau mengerjakan sesuatu Mbak, kadang kan kita suka ngerasa ga enak lah atau apa lah akhirnya malah kaya 'diinjek'... Kesepakatan diawal emang penting banget ya mbak untuk kelancaran semuanya

    ReplyDelete
  26. Ihhh kok aku ikutan jengekel sih mbak, gini nih memang kalo nggak ada perjanjian. E tapi bapak X itu sih yang kerja duluan tanpa menunggu perintah. Kayaknya emang udah direncanakan itu. Bener sih nggak usah dilanjutkan kerjasamanya. Mending biarin aja dulu. Ntar biar yang tukang kerja bangun rumah aja yang dimintai tolong membereskan dahan nya

    ReplyDelete
  27. Ya Allah piye sih itu orang heheheh misster X nya aduh kenapa gitu
    Semoga mba IRa disabarkan hatinya, menghadapi model orang kek begini.
    Buat pengelaman jadinya ya Mba Ira

    ReplyDelete
  28. Banyak mba yang seperti ini. Pas ditanya bilang terserah. Tapi pas dikasih protes. Kalau aku biasanya langsung sebutkan berapa fee yang akan dia peroleh dan apa saja yang harus dia lakukan. Itu aku lakukan sebelum dia mulai kerja. Smoga ga terulang lagi yaa

    ReplyDelete
  29. Aaahhh ngerti rasanya kyk gtu. Kadang berhubungan bisnis ma tetangga atau teman tuh ngeselin yaaa, mending sekalian sama org asing.
    Ngeblog emang salah satu cara megeluarkan unek2 kyk gini ya mbak...

    ReplyDelete
  30. Iya sih, memang akad itu harus jelas ya di awal. Kalau menggampangkan bisa bikin salah satu atau keduanya kecewa

    ReplyDelete
  31. Banyak nih mba orang-orang kaya gini. Memanfaatkan keadaan :D . Pelajaran sih buat Ujame juga. Sebelum sepakat ya jangan ngelakuin apa yang mau disepakati.

    ReplyDelete
  32. kesel banget dehhhh
    masih banyak juga orang-orang yang kayak gini yang sebenarnya memang buat nyari untung dan sasarannya itu orang yang suka gak enakan heheh
    kalau saya udah khatam ama orang bgnian
    saya ributin kalo ada lagi kwkkkww

    ReplyDelete
  33. Berurusan sama orang tua kayanya mmg harus berlapang2 ya mba. Ku juga pernah punya pengalaman serupa. Pelajarannya buat kita, jelas dr awal itu sebuah keharusan. Kalo ga mau jelas2 ya kita paksa aja. Kl ga mau jelas2 ya udah ga usah aja pake jasa dia. Moga2 release ya mba kesel nya 🤗🤗

    ReplyDelete
  34. Setujuuuu,
    akad jelas di awal itu penting. Dalam Islam udah diajarkan ijab-qobul kan ya supaya jelas, enggak ada yang ngomel atau merasa dirugikan di belakang.

    Salam,

    Helenamantra dot com

    ReplyDelete
  35. Wahhh bener banget tuh, terkadang kalau membuat perjanjian dengan orang.. orang yang diajak janji tidak totalitas dan semaunya saja, jadi males dan jengkel gitu

    ReplyDelete
  36. yaampuunn Kak, ikut emosi juga ini bacanya.
    iihh apakah maunya itu orang? dasaarr yaahh, ndak jelas.
    betul sekali itu, sebelum kerjasama memang harus ada perjanjian klo perlu tertulis.
    secara yang menyangkut masalah uang itu memang paling sensitif, uang tidak kenal saudara apalagi cuma tetangga. huuufft.

    ReplyDelete