Terjebak & Tertipu

by - Monday, February 18, 2019


Judulnya lebay yaa, tapi begitulah yang saya rasakan tadi siang (bahkan sampai sekarang rasa kesalnya masih belum hilang) saat diberitahu suami bahwa tetangga yang bekerja membersihkan kintal kami (sebut saja Mr. X) meminta tambahan upah hampir 2 kali lipat dari yang saya berikan kemarin sore.

Sebenarnya saya tidak akan sekecewa ini bila sejak awal si Mr. X ini memberitahu berapa upah yang harus kami bayar atas tenaga yang dia keluarkan untuk menebang beberapa pohon jambu mete yang ada di lahan yang hendak kami bangun rumah di atasnya. Tapi yang terjadi adalah dia hanya diam saja ketika menerima upah yang saya berikan dan baru meminta tambahan upah tadi siang sembari berkata tidak akan membersihkan dahan pohonnya bila upahnya tidak dilunasi. Lah yang saya kasih kemarin itu apaaaa? Huhuhu, bikin emosi deh.

Sejak awal, saya dan suami tidak pernah berniat meminta dia untuk menebang pohon jambu mete sekaligus membersihkan sisa-sisa dahannya. Dialah yang menawarkan diri pada suami saat suami bertanya dimana bisa mendapatkan seseorang yang bisa dimintai tolong menebang pohon karena kawan suami yang sebelumnya hendak kami minta untuk melakukannya sedang tidak bisa karena senso atau alat pemotong kayunya rusak.

buah dari pohon jambu mete yang hendak ditebang
Saat suami bertanya, Mr. X dengan senang hati menawarkan diri. Mendengar tawarannya, suami langsung bertanya tentang upah yang harus kami bayarkan. Dengan santainya dia menjawab "alaah janganlah memusingkan hal itu, gampang itu, semua bisa diatur". Suami bingung mendengar jawabannya, saya lebih bingung lagi, tapi saya tetap memaksa suami untuk bertanya, karena bagi saya tenaga orang yang kita pakai harus dihargai dengan layak.

Lagian, menyebutkan upah di awal itu tidak salah dong yaa? Justru lebih bagus dan terbuka karena ketidakcocokan bisa ditemukan dan dicarikan solusinya sejak awal, misalnya bila ia meminta upah terlalu tinggi, mungkin kami masih bisa meminta diturunkan nilainya, bila tidak sepakat yaa kerjasamanya dibatalkan. Batasan pekerjaan juga lebih jelas jadi tak perlu penjelasan berulang. Intinya kami mau kejelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman di akhir nanti tapi dia terus menghindar.

Suami terus bertanya pada Mr. X tapi jawabannya tetap sama saja alias dia menggampangkan semuanya. Bagi saya jelas, bila belum ada kesepakatan upah, maka pekerjaan itu belum bisa dikerjakan. Saya dan suami belum mengiyakan permintaan Mr. X.

Sampai kemudian kemarin siang kami ke rumah mama dan lewat di samping rumahnya, dia bertanya lagi, kapan akan menebang pohonnya karena katanya sudah menyiapkan semua alat yang digunakan. Saat itu dia meminta suami untuk mengantarnya ke lokasi tapi suami berkata nanti saja setelah kami pulang dari rumah mama. Lagi-lagi upah menjadi alasan mengapa kami belum mengiyakan ia melakukan pekerjaan itu.

Dia setuju dengan perkataan suami, katanya dia akan menunggu hingga kami balik dari rumah mama. Namun yang terjadi setelah kami pulang dari rumah mama tidaklah seperti yang awalnya direncanakan. Ternyata, tanpa aba-aba dari kami, dia sudah menebang pohon jambu. Dan yang menjengkelkan adalah dia hanya menebang saja, dahan-dahan pohonnya dibiarkan begitu saja.

Karena pohon jambu sudah terlanjut ditebang, mau tidak mau kami harus membayar upahnya (yang masih belum kami ketahui berapa nilainya) dong yaa. Suami mengajak saya ke rumah Mr. X untuk bertanya sekaligus membayar upahnya. Untuk kesekian kalinya kami bertanya "berapa upah yang harus kami bayar?" Dan jawabannya masih tetap tidak jelas "jangan pusingkan hal itu, kasih berapa saja yang hendak kalian kasih, saya akan menerimanya". Arggggh, jujur saya kesal banget menerima jawaban seperti itu. Setelah memperhitungkan semuanya, saya bayarlah upahnya (walau hati saya tidak tenang karena tidak ada kesepakatan sejak awal).

Upah itu saya berikan pada isterinya (tentu di situ ada Mr. X) dan si isteri menerimanya sambil tersenyum. Saat memberikan upah itu, saya meminta agar dia memindahkan dahan-dahan pohon yang tadi ditebangnya ke samping atau ke tanah bagian belakang karena kami akan membangun pondasi rumah di atas lahan yang pohonnya di tebang tadi. Mr. X menyanggupi apa yang saya minta, lagi-lagi tanpa meminta upah (dan saya menganggap memindahkan dahan-dahan itu sudah satu paket dengan menebang pohonnya). Ia menyanggupi akan melakukannya esok hari (tadi siang) saat cucu-cucunya sudah pulang dari sekolah.

Tapi betapa kagetnya saya saat tadi siang suami menelepon untuk memberitahukan bahwa Mr. X menolak untuk membersihkan dahan-dahan yang berserakan itu bila upahnya tidak ditambah. Tak tanggung-tanggung, ia meminta hampir 2X lipat dari yang saya berikan kemarin. Katanya, ia tidak akan membersihkan dahan-dahannya bila sisa upah yang dia minta itu tidak diberikan. Seketika emosi saya tersulut. Apa sih maunya orang itu? Huhuhu, dia melakukan pekerjaan itu tanpa kesepakatan, sejak awal dia menggampangkan semuanya dengan bilang bahwa soal upah itu gampang dan tidak usah dipikirkan, seolah-olah bagi dia upah itu tidak penting. Lalu mengapa sekarang sikapnya berubah?

Dengan penuh emosi, saya katakan pada suami, ya sudah tidak usah dibersihkan dahan-dahan pohon itu, biarkan saja berserakan. Saya benar-benar merasa terjebak, saya dipaksa mengiyakan apa yang belum saya setujui. Saking emosinya, saya tidak bisa menahan tangis karena merasa dikhianati dan ditipu. Dalam hati saya berkata, cukup sekali ini saya berurusan dengan Mr. X. Cukup!

Pelajaran penting yang bisa saya ambil dari kasus ini adalah jangan pernah sekalipun menggampangkan sebuah perjanjian, terutama yang berhubungan dengan uang. Sebelum bekerjasama, usahakan untuk membahas hak dan kewajiban sejelas-jelasnya agar tidak ada yang merasa tertipu dan dirugikan.

Dengan siapapun kita hendak bekerjasama, aturan mainnya harus jelas karena uang itu panas, Ferguso! Bahkan saudara sedarah saja bisa bertengkar hebat karena uang, apalagi hanya tetangga. Dan satu lagi, bila ada yang mengajak kerjasama dan menggampangkan semuanya, lebih baik tolak mentah-mentah sedari awal, jangan sampai tertipu seperti yang saya alami.

Maafkan bila tulisan ini tak berfaedah sedikitpun yaa, sengaja saya menulisnya  untuk meredakan emosi dan rasa sedih yang saya rasakan



Baubau, 18 Februari 2019

You May Also Like

36 komentar