Akhirnya Punya Mobil (Walau Bekas)

by - Saturday, March 02, 2019

mobil mewah milik orang, LOL (pic source: pixabay.com)

Sebulan lalu, sekitar pukul 21.00 WITA, suami tiba-tiba menelepon. Seperti biasa, hati saya selalu berbunga-bunga saat melihat namanya tertera di layar ponsel #SukaDukaPelakuLDR, tapi setelah saya angkat, ternyata yang berbicara di seberang sana bukanlah suami melainkan anak saya, Wahyu.

Dengan perasaan deg-degan takut terjadi sesuatu (karena tidak biasanya ia menelepon di jam selarut itu, biasanya jam segitu ia sudah terlelap), saya bertanya mengapa ia menelepon dan belum tidur? Terdengar suaranya yang riang dan tak ada tanda-tanda ngantuk. Tujuannya menelepon adalah untuk memberitahukan bahwa papanya baru saja mengendarai mobil. Ia melaporkan bahwa papanya sudah pandai membawa mobil, hahaha sungguh laporan yang sangat berfaedah 

Ya, suami memang sedang giat-giatnya memperlancar kemampuannya mengendarai mobil. Mumpung ada teman yang mampir ke rumah dan mobilnya bisa dipakai belajar, kesempatan yang baik itu jangan disia-siakan, katanya. Lalu sejak malam itu, setiap malam mulai pukul 22.00 - 24.00 WITA ia belajar mengendarai mobil demi goal #2019BisaLancarNyetirMobil.

Dan seolah semesta mendukung keinginannya, tanpa saya duga, di kantor, pak atasan bertanya apakah saya tak berminat membeli mobil? Kebetulan ada beberapa unit mobil yang baru saja ditarik karena si pemilik tidak mampu lagi membayar angsurannya. Fyi, saya bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan. Konsumen kami yang tak mampu membayar angsuran, maka kendaraannya akan ditarik.

Jawaban saya atas pertanyaan pak pimpinan adalah tidak. Saya kemukakan alasannya bahwa dalam waktu dekat saya dan suami akan mulai membangun rumah yang sudah lama kami impikan, yang mana pembangunan rumah impian ini sudah molor dari jadwal yang kami rencanakan yaitu pada bulan Desember tahun lalu. Mendengar alasan saya, pak atasan maklum dan mendukung rencana saya untuk membangun rumah karena menurut beliau  rumah memang lebih penting dari mobil.

Tapi yang terjadi kemudian tak seperti yang saya inginkan. Saat saya dan suami sedang menikmati waktu santai berdua di akhir pekan, tanpa sadar, saya ceritakan tawaran pak atasan tentang mobil itu. Mata suami seketika berbinar mendengar cerita saya. Dengan penuh semangat, ia meminta saya untuk bertanya berapa harga mobil tersebut. Duh, mengapa saya harus keceplosan cerita padanya sihhh? Berkali-kali saya menyesali mengapa kata-kata itu harus keluar dari mulut saya .  Percakapan kami sore itu diakhiri dengan sebuah janji yang saya ucapkan padanya untuk menanyakan harga mobil pada atasan saya keesokan harinya.

Lalu saat saya berada di kantor, mulailah ia meneror saya dengan mengajukan pertanyaan ini "berapa harga mobilnya?" hampir sepanjang waktu. Tak hanya di telepon, ia mengulang pertanyaan itu di sms dan whatsapp. Semangatnya menanyakan harga mobil itu sama persis dengan semangatnya waktu PDKT dulu, hahaha . Saking seringnya ia melontarkan pertanyaan itu, saya sampai bosan mendengarnya.

Saya dilanda dilema. Pengen banget tahu harga mobilnya tapi malu bertanya karena sudah menolak saat ditawarkan. Tapi kalo tidak bertanya, jawaban apa yang saya berikan pada suami yang sudah ngebet banget pengen tahu harga mobilnya? Akhirnya saya bulatkan tekad dan memberanikan diri bertanya.

Atasan saya langsung memberikan beberapa foto mobil yang hendak dijual beserta harganya masing-masing. Segera saya kirimkan foto dan harga mobil-mobil tersebut pada suami. Dan suami langsung tertarik pada satu unit mobil berwarna putih. Mobil putih yang dipilihnya ini belum lama keluar dari dealer, usianya baru sekitar 4 atau 5 bulanan. Mobil ini ditarik karena si konsumen sudah tidak sanggup membayar dan nunggak angsuran selama 3 bulan.

Seolah tak mau membuang waktu, keesokan harinya suami segera datang ke Baubau untuk melihat mobil tersebut dan mencobanya. Usai mencobanya ia semakin yakin untuk memiliki si putih ini. Suami lalu meminta saya agar segera mengajukan penawaran harga sebelum mobil tersebut ditawar orang lain.


Setelah beberapa hari menunggu persetujuan harga dari kantor pusat, akhirnya penawaran saya disetujui dan mobil berwarna putih ini resmi jadi milik kami. Sehari setelah kami melunasinya, pada hari Rabu tanggal 27 Februari 2019 kemarin suami membawa pulang si putih ini ke Lakudo.

Oh iya, pada awalnya saya menolak untuk punya mobil (alasannya karena pengen bangun rumah dulu), mengapa akhirnya saya mengiyakan permintaan suami untuk memiliki mobil? Ini nih 3 alasan yang dikemukakan suami yang rasanya cukup masuk akal hingga membuat saya mau membuka dompet walau terpaksa:

  1. Saat ini saya sedang hamil. Dengan kondisi perut yang semakin membesar, naik motor bertiga bersama Wahyu jelas bukan pilihan bijak karena akan membuat saya tidak nyaman. Fyi, bila pulang ke Lakudo, Wahyu selalu mengikut kemana pun saya dan papanya pergi. Ia tak bisa melihat saya dibonceng papanya, pasti langsung minta ikut.
  2. Saat si baby lahir nanti, kemana-mana jelas lebih nyaman naik mobil sendiri dibanding naik angkot atau motor. Apalagi bila perginya bareng Wahyu, maka makin remponglah urusannya. Barang bawaan bayi pasti banyak kan?
  3. Pembelian mobil ini insyaallah tidak akan mengganggu rencana pembangunan rumah impian kami. Bila tidak ada aral melintang, minggu kedua di bulan Maret ini pembangunan pondasinya akan dimulai. Doakan semoga semuanya berjalan lancar yaa, Teman. Amiiin .
Dengan 3 alasan di atas, saya merasa mungkin memang sudah saatnya kami punya mobil walau mampunya hanya beli mobil bekas dan jenis mobilnya juga bukan mobil mahal, hehehe. Semuanya tetap harus disyukuri dong yaa, agar nikmatnya semakin dilipatgandakan .

Harapan saya, semoga dengan adanya si putih ini, kegiatan yang kami lakukan bisa lebih lancar dan tidak terkendala cuaca lagi karena selama ini sering kali beberapa kegiatan kami harus terpending atau batal karena cuaca tidak bersahabat dengan pengendara motor seperti kami.


Baubau, 02 Maret 2019

You May Also Like

30 komentar

Labels

Blog Archive

Pengikut