Sakit Mata

by - Tuesday, March 19, 2019

Ehem, saya mau curhat lagi nih. Curhatan saya kali ini adalah tentang mata merah alias sakit mata alias kopeo (bahasa Buton untuk sakit mata) yang sejak kemarin menyerang saya.

pic source: pixabay.com

Ngomong-ngomong tentang mata merah ini, rasanya sudah belasan tahun saya tak pernah dihampiri penyakit belekan ini deh. Seingat saya, terakhir kali saya menderita penyakit mata merah ini adalah saat saya duduk di bangku kuliah semester 5. Saat itu sembuh karena diberi kapsul vitamin A oleh ibu kos yang juga merangkap sebagai kader posyandu di lingkungan tempat tinggal kami. Ya, kapsul vitamin A yang biasanya diberikan untuk balita pada bulan Februari dan Agustus itu loh. Kalo tak salah ingat, saya meminum kapsul itu di sore hari dan besok paginya warna merah dan rasa perih di mata saya langsung hilang. Saya takjub banget dengan khasiat si kapsul karena sudah mampu menyembuhkan sakit mata saya yang bahkan tidak sembuh saat saya berikan obat dokter.

Dan sekarang kisah mata merah itu kembali terulang. Sudah 2 hari ini mata saya merah dan terasa perih. Saya tertular oleh anak saya yang lebih dulu menderita mata merah. Sepertinya, setelah membersihkan mata Wahyu sebelum tidur pada malam senin kemarin, tanpa sadar saya memegang mata saya karena setelah Wahyu tertidur mata saya mulai terasa perih. Saat itu perasaan saya mulai tak enak, firasat saya mengatakan bahwa keesokan harinya saya pasti akan merasakan hal yang sama dengan anak saya. Dan betul, pagi hari saat saya bangun tidur, mata sebelah kiri saya tidak bisa terbuka seperti mata kanan saya 

Saya masuk kantor dengan kondisi mata kiri yang merah. Untuk mengurangi silau dari monitor komputer, saya memakai kacamata anti radiasi yang selama ini jarang saya pakai dan selalu tersimpan di laci meja. Alhamdulillah, kacamata anti radiasi itu bisa sedikit menolong, mata saya jadi tidak terlalu silau dan tidak terlalu pedih saat bekerja menghadap layar monitor.

kedua mata saya yang memerah & bengkak

Setiap saat suami menelepon dan menanyakan bagaimana kondisi mata saya. Cie cie cie, perhatian nih yee LOL . Tak henti-hentinya ia menyarankan saya membeli obat sakit mata tetes yang sebelumnya ia pakai. Menurutnya, aman-aman saja bila saya memakai obat tersebut karena obatnya kan berbentuk tetes tapi saya enggan menuruti sarannya. Keengganan saya disebabkan karena saya takut kandungan obat sakit mata itu mempengaruhi bayi yang saya kandung. Suami berusaha menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena obat-nya kan ditetes bukan diminum tapi hati saya menolak.

Seharian kemarin, tak ada tindakan apapun yang saya lakukan untuk mengurangi rasa perih di mata saya, yang saya lakukan adalah hanya sering membersihkannya saja dengan air dan berusaha mengurangi intensitas memegang smartphone dan membuka laptop. Semalam saya tidur lebih cepat dari biasanya dan berharap keesokan paginya warna merah di mata saya sedikit berkurang.  Tapi yang terjadi malah sebaliknya.


Pagi tadi, saat alarm berbunyi, saya tak bisa membuka kedua mata saya. Untuk mematikan alarm itu, saya harus meraba-raba mencari keberadaan handphone yang bunyinya semakin lama semakin memekakkan telinga. Huwaaaa, pagi tadi kedua mata saya sama-sama merah dan warnanya lebih merah dari yang kemarin. Rasanya juga lebih perih dari yang kemarin, bahkan kedua mata saya tampak bengkak .

Menyadari kondisi mata saya yang semakin parah, dan mendengar masukan dari beberapa teman yang  menyarankan ke dokter agar diperiksa lebih lanjut, akhirnya saya putuskan ke dokter saja. Rencananya, ba'da maghrib saya akan ke dokter diantar oleh adik saya.

Tapi rupanya hati kecil saya masih berharap sakit mata ini bisa diobati dengan cara alami. Maka sebelum pulang kantor, saya sempatkan untuk browsing cara menyembuhkan sakit mata secara alami dan bertemulah saya dengan sebuah artikel yang menyebutkan bermacam-macam bahan alami yang bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit mata, diantaranya ada ketimun, bawang putih, daun sirih, kentang, ampas teh hijau, kunyit, air mawar, MADU dan beberapa bahan alami lainnya.

Entah mengapa saya kok pengen membuktikan kebenaran artikel tersebut yaa? Kebetulan beberapa bahan yang disebutkan itu ada di rumah, terutama bawang putih dan madu. Segera saya pulang ke rumah dan mempraktekkan apa yang saya baca. Sempat bingung mau menggunakan bawang putih atau madu, namun setelah menimbang mana yang terbaik akhirnya saya putuskan menggunakan madu saja. Alasannya karena madu tak berbau sedangkan bawang putih baunya menyengat. Kebetulan persediaan madu adik saya di kulkas masih banyak.

pic source: pixabay.com

Segera saya cuci muka dan mulai berkreasi. Ini nih langkah-langkah yang saya lakukan:

  1. Bersihkan kedua mata merah dengan air bersih
  2. Oleskan madu di kelopak dan di bawah mata (sekeliling mata diolesi madu). Tak mengapa madunya masuk ke mata (periiih banget tapi sepertinya saat itulah madunya bekerja)
  3. Tutup mata dan diamkan selama ±5 menit
  4. Buka mata.
  5. Cuci mata dengan air bersih.
Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, Alhamdulillah, kondisi mata saya mulai membaik. Untuk merahnya, memang masih terlihat merah namun rasa perih yang sebelumnya sangat menyiksa sudah jauh berkurang. Saya bahkan sudah bisa melepaskan kacamata anti radiasi yang seharian ini saya pakai.

Karena kondisi mata saya mulai membaik, niat ke dokter saya batalkan, hehehe . Rencananya, sebelum tidur saya akan kembali mengoleskan madu di sekeliling mata saya. Semoga besok pagi merahnya bisa memudar dan perihnya semakin hilang, amiiiin.

Btw, adakah yang punya pengalaman serupa dengan saya? Yuk bagi ceritanya di kolom komentar 

UPDATE
Pagi ini saat bangun pagi, mata saya masih merah tapi tidak belekan lagi dan tidak perih lagi. Melihat pun tidak silau lagi 


Baubau, 19 Maret 2019

You May Also Like

28 komentar

Labels

Blog Archive

Pengikut