17 July 2019

Bahagianya Berbagi Ilmu

pic source: pixabay.com

Beberapa bulan lalu, saat berkunjung ke rumah mama, saya dibuat terkejut oleh tumpukan buku iqro dan alquran di atas meja di ruang tamu rumah mama. Melihat hal itu, tak tahan rasanya bila tak bertanya, untuk apakah gerangan buku iqro dan alquran sebanyak itu? Mama menjawab untuk anak-anak tetangga yang datang belajar mengaji ba'da maghrib. Adikmu yang mengajari mereka. Tambah mama sebelum saya bertanya lebih lanjut.

Lalu mama mulai bercerita bahwa awalnya adik bungsu saya tidak berniat mengajari anak-anak tetangga itu mengaji (di daerah kami, belajar membaca alquran disebut mengaji), namun karena guru ngaji mereka (yang juga tetangga rumah mama) sudah berangkat kuliah, akhirnya adik saya menawari dua orang dari anak-anak itu untuk mengaji di rumah mama.

Rupanya dua anak itu menyebarkan berita bahwa mereka tak perlu berhenti mengaji karena Kak Siti (nama adik saya) yang akan mengajari mereka mengaji mulai dari iqro sampai alquran menggantikan guru mereka sebelumnya. Sejak saat itu, setiap hari ba'da maghrib rumah mama selalu dipenuhi anak-anak yang belajar membaca alquran. Usia mereka bervariasi mulai dari usia SD sampai SMA, mulai dari yang belajar mengeja di iqro 1 hingga yang sudah alquran.

Begitu besar semangat anak-anak itu untuk belajar membaca alquran, bahkan ada dua kakak beradik yang tetap datang mengaji walau saat itu sedang hujan lebat, cerita adik saya. Semangat mereka yang meletup-letup itu membuatnya bahagia. Ia tidak menyangka ternyata murid-muridnya sangat antusias belajar.


Maka demi menyenangkan mereka, selepas Idul Fitri kemarin, adik saya mengadakan beberapa lomba, dan lagi-lagi semangat mereka terlecut untuk ikut lomba. Oh iya, ada satu lagi yang membuat adik saya semakin semangat mengajari anak-anak tetangga itu yakni rasa ingin tahu mereka yang besar. Bila tidak mengerti tentang pelajaran yang diberikan, mereka tak segan dan tak malu bertanya. Ia sangat menyukai anak yang seperti itu karena hal itu mengingatkannya pada masa-masa sekolahnya dulu.

Sayangnya sejak awal Juli kemarin adik saya sudah kembali aktif masuk sekolah (walau belum aktif mengajar) sehingga mulai jarang mengajari mereka (adik saya adalah guru yang baru lulus CPNS tahun lalu). Ia baru balik ke rumah mama pada akhir pekan atau saat tidak ngantor. Jarak rumah mama dan tempat tugasnya yang lumayan jauh kurang lebih 18 KM plus jalan yang dilalui masih relatif sunyi membuatnya tidak bisa pulang pergi setiap hari.


Selama hampir sebulan saya tinggal di rumah mama dan menyaksikan sendiri semangat anak-anak itu. Pantas saja adik saya senang mengajari mereka ternyata mereka memang anak-anak yang haus ilmu, bahkan ada satu anak (SMA) juga minta diajari pelajaran sekolah, sangat jauh berbeda dengan siswanya di sekolah yang ogah-ogahan belajar dan sangat pasif di kelas. Ia masih mencari formula yang pas untuk membangkitkan minat belajar siswa-siswinya agar bisa seperti murid-murid ngajinya.

Wahh salut deh pada semangat belajar anak-anak tetangga itu. Sangat wajar bila adik saya merasa bahagia mengajari mereka, bahkan saya yang melihatnya saja sudah bahagia. Doa saya, semoga semangat belajar murid-murid pengajian ini selalu terjaga, juga semoga semangat siswa-siswi adik saya di sekolah tempatnya mengajar bisa menyamai semangat adik-adik yang belajar membaca alquran itu, amiiin.


Lakudo, 17 Juli 2019

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah membaca tulisan saya, jangan lupa tinggalin komennya yaa ;)