Serba Serbi WhatsApp

by - Sunday, July 21, 2019

pic source: pixabay.com

Bisa dibilang saya telat kenal  aplikasi WhatsApp. Sebelumnya saya tidak kenal aplikasi chatting ini dan lebih nyaman memakai Blackberry Messanger (BBM), hingga suatu hari saya meminta suami untuk menginstallnya di handphone saya karena saat itu hendak dimasukkan di dalam grup blogger. 

Siapa yang menduga, setelah memakainya ternyata saya sangat nyaman. Saking nyamannya, BBM yang semula saya puji-puji sebagai aplikasi chatting terbaik akhirnya saya uninstall seiring dengan menurunnya popularitas BBM hingga akhirnya aplikasi ini dihilangkan.

Bila dihitung, sudah lebih tiga tahun saya memakai aplikasi whatsapp ini. Awal memakainya, saya hanya tergabung di dua grup saja, kalo tidak salah ingat nama grupnya adalah Arisan Link BP & Collaborative Blogging KEB. Seiring berjalannya waktu, saya sudah semakin banyak gabung di grup WA, mulai dari grup alumni SMA, grup teman-teman ngekost saat kuliah, grup kantor (ada 3), grup arisan teman kuliah juga banyak grup blogger.

Saya senang gabung di banyak grup WA. Sebagai blogger, semakin banyak kita gabung dalam sebuah grup itu artinya makin banyak juga job yang kita kerjakan karena masing-masing job biasanya akan dibuatkan grup walau grup ini bersifat temporer karena setelah jobnya usai para anggota akan dikick atau disuruh keluar oleh adminnya.

Walau senang gabung di banyak grup, adakalanya saya juga merasa tidak nyaman berada dalam satu grup WA. Hal-hal yang membuat saya tida nyaman berada dalam grup WA, diantaranya:
  1. Ngomongin sara. Seakrab apapun saya dengan seluruh anggota grup, bila sudah ngomongin sara, saya akan merasa tidak nyaman. Bila hal ini terjadi, biasanya saya langsung komplain ke admin untuk menghentikan obrolan terkait sara tersebut. Alhamdulillah sejauh ini bahasan sara ini masih aman dan tidak ada yang membahasnya di grup.
  2. Ada anggota grup yang menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian. Sekarang gampang banget orang menyebarkan berita bohong dengan dalih sekedar menyebarkan apa yang ia dapat dari grup "sebelah". Bila ada anggota grup yang melakukan ini, biasanya langsung saya klarifikasi bahwa berita yang disebarkan adalah hoax plus mengingatkan "saring before sharing".
  3. Ngomongin politik. Ini yang paling banyak diomongin di grup alumni SMA saya setahun kemarin. Ada banyak teman saya yang leave dari grup karena masalah ini. Saya memilih clear chat bila pembahasannya sudah "panas" walau sesekali ikut nimbrung.
  4. Bercanda tapi tidak lucu. Yang masuk dalam kategori ini adalah candaan-candaan yang menyinggung atau menyakitkan, candaan yang mengandung unsur pornografi, candaan yang mengandung hinaan fisik, candaan antara pria dan wanita yang masing-masing sudah menikah dan masih banyak candaan yang sekiranya berakibat buruk.

Walau banyak yang bilang bahwa WA adalah aplikasi yang paling banyak digunakan untuk sebar berita bohong alias hoax, tapi di balik itu kehadiran whatsapp juga telah banyak membantu orang bersilaturahmi. Saya ingat, zaman masih SMS, sangat banyak pesan dari teman-teman yang tidak saya balas karena keterbatasan pulsa, sedangkan mengirim pesan lewat WA kita hanya butuh paket data internet saja.

Intinya, bila dibandingkan antara efek positif dan efek negatif yang ditimbulkan whatsapp terhadap kehidupan saya, saya merasa whatsapp memberi lebih banyak hal positif dibanding hal negatifnya dan sampai saat ini saya merasa ia adalah aplikasi chatting terbaik dan belum ada tandingannya. Kalau kamu, bagaimana pendapatmu tentang whatsapp, Teman? 


Lakudo, 21 Juli 2019

You May Also Like

22 komentar

Labels

Blog Archive

Pengikut